Nasrudin mengendarai keledai dalam posisi terbalik karena tidak ingin membelakangi murid-muridnya yang mengikutinya dari belakang.

 

Suatu hari Nasruddin Hoja didatangi seorang lelaki yang mengeluhkan masalah keluarganya.
“Nasruddin, bantulah aku keluar dari masalah dalam keluargaku,” keluh lelaki itu.
“Apa masalahmu?” tanya Nasruddin.
“Hidupku rasanya begitu sumpek karena aku tinggal di sebuah rumah yang sangat sempit! Apalagi di sana aku tinggal bersama istri dan anakku, ibu mertuaku serta seorang saudaraku. Rasanya aku tak punya ruang gerak di rumahku sendiri. Semua itu membuatku tak bahagia!”
Nasruddin tampak berpikir sejenak dan menjawab,
“Peliharalah sepasang kambing itu di dalam rumahmu,” saran Nasruddin sambil menunjuk dua ekor kambing di pekarangan rumahnya.
Si lelaki tampak begitu heran dengan jawaban Nasruddin, tetapi bagaimanapun Nasruddin adalah tokoh terpandang yang nasehat-nasehatnya selalu ampuh untuk menyelesaikan problem kehidupan banyak orang. Maka dengan terpaksa, lelaki itu menjalankan nasehat Nasruddin.
“Seminggu kemudian, jika masalahmu belum selesai, datanglah kembali padaku.” ujar Nasruddin.

***

Seminggu berlalu, lelaki itu kembali mendatangi Nasruddin dengan wajah yang sangat kusut.
“Bagaimana kabarmu sekarang?” tanya Nasruddin.
“Segalanya lebih buruk! Kambing-kambing itu membuat rumahku makin sesak! Keduanya terus mengembik dan berputar-putar di dalam rumahku!”
Nasruddin tersenyum ke arah lelaki itu.
“Ambillah keledaiku dan peliharalah bersama kambing-kambing itu di dalam rumahmu. Seminggu lagi datanglah lagi kepadaku.”
Keledai Nasruddin mungkin adalah keledai yang istimewa, pikir lelaki itu. Maka ia pun menuntun keledai itu untuk dipelihara di dalam rumahnya.

***

Seminggu kemudian si lelaki mendatangi Nasruddin dengan wajah yang lebih suram dan rambut yang lebih kusut.
“Nasruddin, keledaimu buang kotoran di setiap sudut rumahku! Rumahku makin sesak dan hidupku berantakan!” umpatnya.
Nasruddin terkekeh mendengar cerita lelaki itu. “Apakah kamu masih memelihara kambing-kambing itu?”
Lelaki itu mengangguk penuh keheranan.
“Pulanglah dan kembalikan kambing-kambing itu kepadaku.” ujar Nasruddin.
Lelaki itu pun pulang lalu kembali dengan menuntun dua ekor kambing ke rumah Nasruddin.
“Seminggu lagi datanglah kepadaku dan ceritakan perkembangan masalahmu.” kata Nasruddin.

Baca juga  Acara Santunan Anak Yatim Lembaga Ansor Peduli Ranting Sekapuk.

***

Tujuh hari berlalu dan lelaki itu mendatangi Nasruddin dengan wajah yang lebih cerah.
“Ini luar biasa! Rumahku kini lebih lapang, keledaimu juga lebih terkendali di dalam rumah. Aku mulai bisa mengaturnya. Tapi istri, anak-anak, ibu mertua dan saudaraku masih mengeluhkan keberadaan keledaimu di rumah. Setiap hari mereka mengumpat dan membuat aku stres!”
“Syukurlah. Tapi jika keledaiku membawa masalah, kembalikan padaku.”
Lelaki itu mengembalikan keledai kepada Nasruddin.

***

Seminggu kemudian lelaki itu datang ke rumah Nasruddin dengan membawa sekeranjang buah-buahan. Wajah lelaki itu begitu ceria dan rambutnya disisir rapi serta bajunya wangi.
“Kau tampak lebih bahagia atau penglihatanku saja?” tanya Nasruddin.
Laki-laki itu tertawa. “Ini hebat! Setelah kambing dan keledai tidak tinggal di rumahku, keluargaku jadi lebih berbahagia. Rumah kami terasa lebih lapang, anak-anak bisa bermain dan berlarian. Aku dan istriku memerhatikan mereka dari sudut. Ibu mertuaku membantu istriku memasak setiap hari, saudaraku membantuku membersihkan rumah serta taman. Rumahku begitu ramai dan penuh keceriaan.” cerita lelaki itu.
Nasruddin tersenyum. “Syukurlah jika Allah melapangkan rumahmu.”
“Terimakasih banyak Nasruddin. Ini aku membawakan sekeranjang buah-buahan untukmu sebagai tanda syukur.” Kemudian lelaki itu pamit dan melangkahkan kakinya riang menuju rumah cerianya.

Nasrudin Hoja adalah tokoh nyata, bahkan Unesco menetapkan tahun 1996 sebagai Tahun Nasrudin Hoja
Nasruddin Hoja terkenal sebagai seorang juru nasehat yang saleh, yang memberi pengarahan lewat kisah-kisah aneh dan jenakanya. Nasruddin Hoja sering diundang oleh penguasa untuk diminta saran dan nasehat. Bukan hal aneh bila rumahnya tidak pernah sepi dari tamu. Berbagai lapisan kalangan masyarakat banyak yang datang kepadanya untuk diminta nasehatnya. Ia juga sering menolong orang yang sedang dalam kesulitan. Nasruddin Hoja bahkan dipercaya sebagai seseorang yang memiliki kekeramatan para awliya (wali).
Nasruddin Hoja adalah tokoh yang benar-benar ada. Seperti halnya Abu Nawas. Kisah-kisah keduanya memiliki kecerdikan dan humor yang setaraf yang mengandung kritik sosial, tetapi ada perbedaan besar antara Nasruddin Hoja dan Abu Nawas. Abu Nawas adalah seorang tokoh penyair yang kurang taat dalam beragama. Abu Nawas dikenal juga sebagai seorang pemabuk yang sangat menyukai arak dan juga gemar berfoya-foya dalam kehidupannya yang mewah. Abu Nawas baru mendalami agama pada masa tuanya.
Kisah-kisah Nasruddin Hoja bersifat universal karena kisah-kisahnya menggambarkan keadaan manusia sebagaimana apa adanya dan menggambarkan kelemahan umat manusia pada umumnya. Kisah-kisahnya selalu relevan dengan gambaran keadaan masyarakat yang sesungguhnya, tanpa dibatasi oleh waktu, batas-batas geografis maupun bahasa. Itu sebabnya UNESCO menetapkan tahun 1996 sebagai Tahun Nasruddin Hoja.

Sebuah miniatur abad ke-17 dari Nasreddin, saat ini di Perpustakaan Museum Istana Topkapi.

Sebuah miniatur abad ke-17 dari Nasreddin, saat ini di Perpustakaan Museum Istana Topkapi, Turki.

https://id.wikipedia.org/wiki/Nasruddin#Makam_Nasruddin