Bagi masyarakat muslim Jawa, ritualitas sebagai wujud pengabdian dan ketulusan penyembahan kepada Tuhan, sebagian diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol ritual yang memiliki kandungan makna mendalam. Simbol-simbol ritual merupakan ekspresi atau pengejawantahan dari penghayatan dan pemahaman akan “realitas yang tak terjangkau” sehingga menjadi “yang sangat dekat”. Dengan simbol-simbol ritual tersebut, terasa bahwa Allah selalu hadir dan selalu terlibat, “menyatu” dalam dirinya. Simbol ritual dipahami sebagai perwujudan maksud bahwa dirinya sebagai manusia merupakan tajalli, atau juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Tuhan. Sebagaimana diketahui, dalam tradisi Islam Jawa, setiap kali terjadi perubahan siklus kehidupan manusia, rata-rata mereka mengadakan ritual slametan, dengan memakai berbagai benda-benda makanan sebagai simbol penghayatannya atas hubungan diri dengan Sang Pencipta.

Para Waliyullah paham betul akan kehalusan rasa dan keluhuran budi kultur dalam masyarakat Jawa ini, sehingga tidak serta merta mengharamkan tradisi-tradisi bernilai universal luhur ini dengan menghakiminya sebagai sesuatu yang haram dan bid’ah. Kecerdasan spiritual para wali ini dengan mengganti ruh dan isi dari tradisi yang belum tersentuh Islam, dengan isian yang lebih terarah dan tertuju hanya pada Tuhan yang Maha Esa, bukan kepada selain-Nya. Sehingga dengan sendirinya, karakter Islam dapat diterima dengan baik dan masif karena tidak bertentangan dengan budaya dan karakter masyarakat Jawa di masa itu.

Ambengan adalah nasi putih yang ditempatkan dalam wadah, wadahnya dapat berupa panci atau besek. Ambengan merupakan gambaran dari bumi (tanah) sebagai tempat hidup dan kehidupan semua makhluk ciptaan Tuhan baik itu manusia, hewan, tumbuhan, dan lainnya, yang harus dijaga kelestariaannya, karena itu merupakan unsur yang penting dalam kehidupan semua makhuk ciptaan Tuhan.

Baca juga  Desa Sekapuk siap menyambut Bulan Ramadhan, 9 warung bersedia tutup dan 14 warung ingin tetap buka

Ambengan memiliki beberapa pendidikan nilai dan karakter yang luhur dan tinggi, diantaranya:

  1. Nilai Relijius

Masyarakat Jawa terkenal sebagai masyarakat yang relijius. Relijius maksudnya berhubungan dengan praktek ketuhanan. Masyarakat yang percaya akan adanya kekuatan yang maha dasyat diluar kemampuan manusia. Nilai relijius ini juga tampak sangat jelas dalam ritual ambengan. Ritual yang dimaksudkan untuk mendoakan para leluhur. Do’a merupakan unsur penting dalam pelaksanaan ritual ambengan. Permohonan ampunan dan permohonan surga bagi para leluhur dilakukan dengan tahlilan yang dipimpin oleh ulama setempat. Selain itu, ritual baca doa yang meliputi ambengan, merupakan pengejawantahan dari nilai relijius. Masyarakat Jawa menyadari betul bahwa setiap manusia akan kembali kepada yang Maha Esa.

 

  1. Nilai Syukur

Masyarakat Jawa seperti telah diketahui, merupakan masyarakat pemeluk agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu mempunyai kesadaran akan kewajibannya dalam melakukan pengabdian dan persembahan kepada-Nya. Salah satu bentuk persembahannya yaitu melalui laku syukur. Syukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan kepadanya setiap waktu. ambengan merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat Jawa kepada Tuhan Yang Maha Kaya. Masyarakat berduyun-duyun menyedekahkan makanan atau jajanan saat ambengan. Tidak ada paksaan dalam laku ini. Masyarakat dengan suka-rela menyumbangkan sesuatu semampunya untuk orang lain. Masyarakat Jawa sangat mengilhami betul surat Ibrahim Ayat 7, bahwa “….Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Masyarakat Jawa menolak azab yang besar melalui laku ambengan.

 

  1. Nilai Gotong-royong (Rukun)

Sikap rukun telah menjadi ciri yang dimiliki oleh masyarakat Jawa. Pelaksanaan sikap rukun dalam kehidupan sosial kemasyarakat lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada pribadi., jauh dari rasa permusuhan, saling tolong menolong dalam kebaikan. Perintah wata’awanu alal birri wattaqwa bagi masyarakat Jawa tidak hanya sekedar di atas kertas, tetapi teraktualisasikan dalam laku sosial, bahkan menjadi kebutuhan sosial masyarakat.

Baca juga  SETIGI dulu dan kini

Seperti halnya tradisi ambengan di Jawa dirasakan menjadi milik bersama, dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat, dijiwai oleh rasa kebersamaan saling tolong menolong tanpa rasa perselisihan, merasa saling mengungguli. Oleh karenanya ambengan merupakan perwujudan dari laku rukun masyarakat Jawa.

 

  1. Nilai Saling Menghormati (Pluralisme)

Ambengan hakekatnya adalah ekspresi rasa syukur. Di tempat itu, semua orang menjadi satu atas nama persaudaraan. Ambengan bagi masyarakat Jawa merupakan perwujudan laku saling menghormati perbedaan atau pluralisme. Dalam ambengan rasa syukur itu di wujudkan dalam sinergi bersama yang kuat dan rukun. Aura guyub dan rukun itulah yang nantinya akan mendatangkan keridlaan Tuhan dalam masyarakat. Yang berikutnya akan membawa kebaikan dan maslahat bagi wilayah yang bersangkutan.

Ambengan merupakan kearifan lokal masyarakat Jawa yang syarat nilai dan karakter luhur. Tradisi apapun bentuknya jika tidak dijaga dan dilestarikan akan hilang tergerus jaman. Jika bukan manusia sekarang, lalu siapa lagi yang akan menjaga dan mengamalkan tradisi luhur para leluhur kita.

Berikut dokumentasi Rapat Pemantapan Acara Ambengan Desa Sekapuk. Yang rencananya akan diadakan pada Rabu, 20 Juni 2018 setelah shalat Maghrib. Peserta rapat adalah para ketua RT dan pengurus mushala di Desa Sekapuk.